Asuhan Keperawatan


ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN MODEL TRANSCULTURAL IN NURSING PADA KASUS BALITA GIZI BURUK
Disusun Oleh :
Kelompok I
KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN SURABAYA
PRODI KEPERAWATAN SUTOPO
2010 – 2011
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan tugas kelompok Transcultural Nursing yang berjudul “Asuhan Keperawatan dengan Model Keperawatan Transcultural in Nursing pada Balita Gizi Buruk“ tepat pada waktunya. Makalah ini kami buat sebagai tugas mata kuliah Transcultural Nursing.
Akhirnya kami menyampaikanterimakasih yang sebesar-besarnyakepada :
  • Bu Siti Nurkholifah selaku dosen pembimbing dalam mata kuliah Transcultural Nursing yang turut membantu dan membimbing kelompok  kami sehingga dapat menyelesaikan makalah ini di Prodi KeperawatanSutopo Surabaya
  • Teman-teman  yang turut memberi saran dan kritik atas penyusunan makalah ini.
Materi makalah ini kami susun sedemikian rupa dengan mengakses melalui website (internet), dengan metode kepustakaan juga. Makalah ini kami  susun sesuai dengan kemampuan kami dan kami kerjakan dengan maksimal.
Kritik dan saran untuk perbaikan makalah ini, sangat kami harapkan dari dosen, teman, mau pun pihak lain yang menaruh perhatian terhadap kemajuan kami untuk lebih menyempurnakan dan melengkapi makalah ini. Dan kami berharap, semua pihak dapat memanfaatkan makalah ini sebaik-baiknya.
Surabaya, Oktober 2010
Penyusun
Daftar Isi
Halaman Judul            …………………………………………………………………        i
Kata Pengantar            …………………………………………………………………        ii
Daftar Isi         ……………………………………………………………………………..           iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang      …………………………………………………………………        1
1.2 Tujuan       ………………………………………………………………………….       2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teori Model Keperawatan in Nursing       ………………………………………….       3
2.1.1 Model Keperawatan in Nursing ………………………………………….       3
2.1.2 Konsep dalam Transcultural Nursing     ………………………………….       3
2.1.3 Paradigma Transcultural Nursing           …………………………………..      5
2.1.4 Proses keperawatan Transcultural Nursing        …………………………..      6
2.1.5 Diagnosa keperawatan   …………………………………………………..      8
2.1.6 Perencanaan dan Pelaksanaan    ………………………………………….       9
2.1.7 Evaluasi  ………………………………………………………………….       9
2.2 Tinjauan Medis     ………………………………………………………………….       9
2.2.1 Pengertian Gizi Buruk    …………………………………………………        9
2.2.2 Etiologi Gizi Buruk        ………………………………………………….       12
2.2.3 Klasifikasi Gizi Buruk    ………………………………………………….       12
2.2.4 Penatalaksanaan ………………………………………………………….       14
2.2.5 Konsep askep pada balita gizi buruk      ………………………………….       21
BAB III ASKEP DENGAN MODEL KEPERAWATAN TRANSCULTURAL IN NURSING
3.1 Pengkajian            …………………………………………………………………………        24
3.2 Diagnosa Keperawatan     …………………………………………………………        29
3.3 Intervensi keperawatan      ..………………………………………………………..        30
BAB IV PENUTUP
4.1 Simpulan   ………………………………………………………………………….       34
4.2 Saran         ………………………………………………………………………….       34
DAFTAR PUSTAKA            ………………………………………………………………….       36
ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN MODEL TRANSCULTURAL IN NURSING PADA KASUS BALITA GIZI BURUK
Disusun Oleh :
Kelompok I
KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN SURABAYA
PRODI KEPERAWATAN SUTOPO
2010 – 2011
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan tugas kelompok Transcultural Nursing yang berjudul “Asuhan Keperawatan dengan Model Keperawatan Transcultural in Nursing pada Balita Gizi Buruk“ tepat pada waktunya. Makalah ini kami buat sebagai tugas mata kuliah Transcultural Nursing.
Akhirnya kami menyampaikanterimakasih yang sebesar-besarnyakepada :
  • Bu Siti Nurkholifah selaku dosen pembimbing dalam mata kuliah Transcultural Nursing yang turut membantu dan membimbing kelompok  kami sehingga dapat menyelesaikan makalah ini di Prodi KeperawatanSutopo Surabaya
  • Teman-teman  yang turut memberi saran dan kritik atas penyusunan makalah ini.
Materi makalah ini kami susun sedemikian rupa dengan mengakses melalui website (internet), dengan metode kepustakaan juga. Makalah ini kami  susun sesuai dengan kemampuan kami dan kami kerjakan dengan maksimal.
Kritik dan saran untuk perbaikan makalah ini, sangat kami harapkan dari dosen, teman, mau pun pihak lain yang menaruh perhatian terhadap kemajuan kami untuk lebih menyempurnakan dan melengkapi makalah ini. Dan kami berharap, semua pihak dapat memanfaatkan makalah ini sebaik-baiknya.
Surabaya, Oktober 2010
Penyusun
Daftar Isi
Halaman Judul            …………………………………………………………………        i
Kata Pengantar            …………………………………………………………………        ii
Daftar Isi         ……………………………………………………………………………..           iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang      …………………………………………………………………        1
1.2 Tujuan       ………………………………………………………………………….       2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teori Model Keperawatan in Nursing       ………………………………………….       3
2.1.1 Model Keperawatan in Nursing ………………………………………….       3
2.1.2 Konsep dalam Transcultural Nursing     ………………………………….       3
2.1.3 Paradigma Transcultural Nursing           …………………………………..      5
2.1.4 Proses keperawatan Transcultural Nursing        …………………………..      6
2.1.5 Diagnosa keperawatan   …………………………………………………..      8
2.1.6 Perencanaan dan Pelaksanaan    ………………………………………….       9
2.1.7 Evaluasi  ………………………………………………………………….       9
2.2 Tinjauan Medis     ………………………………………………………………….       9
2.2.1 Pengertian Gizi Buruk    …………………………………………………        9
2.2.2 Etiologi Gizi Buruk        ………………………………………………….       12
2.2.3 Klasifikasi Gizi Buruk    ………………………………………………….       12
2.2.4 Penatalaksanaan ………………………………………………………….       14
2.2.5 Konsep askep pada balita gizi buruk      ………………………………….       21
BAB III ASKEP DENGAN MODEL KEPERAWATAN TRANSCULTURAL IN NURSING
3.1 Pengkajian            …………………………………………………………………………        24
3.2 Diagnosa Keperawatan     …………………………………………………………        29
3.3 Intervensi keperawatan      ..………………………………………………………..        30
BAB IV PENUTUP
4.1 Simpulan   ………………………………………………………………………….       34
4.2 Saran         ………………………………………………………………………….       34
DAFTAR PUSTAKA            ………………………………………………………………….       36
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tuntutan kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan pada abad ke-21,
termasuk tuntutan terhadap asuhan keperawatan yang berkualitas akan semakin
besar. Dengan adanya globalisasi, dimana perpindahan penduduk antar negara
(imigrasi) dimungkinkan, menyebabkan adaya pergeseran terhadap tuntutan
asuhan keperawatan.
Keperawatan sebagai profesi memiliki landasan body of knowledge yang kuat,
yang dapat dikembangkan serta dapat diaplikasikan dalam praktek keperawatan. Perkembangan teori keperawatan terbagi menjadi 4 level perkembangan yaitu
metha theory, grand theory, midle range theory dan practice theory.
Salah satu teori yang diungkapkan pada midle range theory adalah
Transcultural Nursing Theory. Teori ini berasal dari disiplin ilmu antropologi dan
dikembangkan dalam konteks keperawatan. Teori ini menjabarkan konsep
keperawatan yang didasari oleh pemahaman tentang adanya perbedaan nilai-nilai
kultural yang melekat dalam masyarakat. Leininger beranggapan bahwa sangatlah
penting memperhatikan keanekaragaman budaya dan nilai-nilai dalam penerapan
asuhan keperawatan kepada klien. Bila hal tersebut diabaikan oleh perawat, akan
mengakibatkan terjadinya cultural shock.
Cultural shock akan dialami oleh klien pada suatu kondisi dimana perawat
tidak mampu beradaptasi dengan perbedaan nilai budaya dan kepercayaan. Hal ini
dapat menyebabkan munculnya rasa ketidaknyamanan, ketidakberdayaan dan
beberapa mengalami disorientasi. Salah satu contoh yang sering ditemukan adalah
ketika klien sedang mengalami nyeri. Pada beberapa daerah atau negara
diperbolehkan seseorang untuk mengungkapkan rasa nyerinya dengan berteriak
atau menangis. Tetapi karena perawat memiliki kebiasaan bila merasa nyeri hanya
dengan meringis pelan, bila berteriak atau menangis akan dianggap tidak sopan,
maka ketika ia mendapati klien tersebut menangis atau berteriak, maka perawat
akan memintanya untuk bersuara pelan-pelan, atau memintanya berdoa atau malah
memarahi pasien karena dianggap telah mengganggu pasien lainnya. Kebutaan
budaya yang dialami oleh perawat ini akan berakibat pada penurunan kualitas
pelayanan keperawatan yang diberikan.
Saat ini gizi buruk pada balita menjadi perdebatan dan isu menarik. Keadaan ini akibat dari ditemukannya kasus-kasus kelaparan (hoenger oedema/HO) pada orang dewasa dan marasmus atau kwashiorkhor pada anak balita yang sering dilaporkan oleh media cetak maupun elektronik. Kejadian gizi buruk sebenarnya dapat dicegah apabila akar masalah di keluarga yang bersangkutan dapat dikenali, sehingga masalah penanggulangannya dapat dilakukan secara lebih mendasar melalui penanganan terhadap akar masalahnya.
Kendala secara umum adalah masih banyaknya anggapan oleh pemegang kebijakan bahwa masalah gizi buruk merupakan masalah kesehatan yang harus diselesaikan oleh sektor kesehatan saja. Sehingga secara umum program penanganan gizi buruk lebih banyak menggunakan pendekatan bidang kesehatan. Pendekatan secara ekonomi, pertanian, dan pendidikan belum banyak dilaksanakan. Sebagian besar pelaku program masih bertindak sendiri secara sektoral dengan indikator pencapaian program yang diukur dengan indikator fisik dan kurang mendorong perubahan perilaku. Harus disadari bahwa program penanganan gizi buruk di bidang kesehatan lebih banyak bersifat darurat dan mendesak seperti bantuan pengobatan atau perawatan, pemberian PMT pemulihan dan suplementasi zat gizi. Pada saat bantuan dihentikan, masalah kekurangan gizi akan terjadi lagi karena ketidakmampuan keluarga terkait dengan daya beli dan keadaan ekonomi keluarga.
Permasalahan gizi buruk tak bisa terselesaikan tanpa ada penanganan yang serius dari pemerintah, hal tersebut membuktikan rendahnya perhatian pemerintah terhadap sektor kesehatan, baik kurangnya pusat kesehatan di daerah maupun di wilayah. Bagaimana masyarakat bisa mewujudkan program Indonesia Sehat 2010 tanpa penanganan gizi buruk yang serius dari pemerintah.
1.2 Tujuan
Penulisan makalah ini memiliki tujuan antara lain sebagai berikut :
1)      Mengetahui model keperawatan in nursing.
2)      Mengetahui asuhan keperawatan dengan model transcultural in nursing.
3)      Mengetahui asuhan keperawatan pada balita gizi buruk dengan model keperawatan in nursing.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teori Model Keperawatan Transcultural in Nursing
2.1.1 Model Keperawatan Transcultural in Nursing
Transcultural Nursing adalah suatu area/wilayah keilmuwan budaya padaproses belajar dan praktek keperawatan yang fokus memandang perbedaan dankesamaan diantara budaya dengan menghargai asuhan, sehat dan sakit didasarkanpada nilai budaya manusia, kepercayaan dan tindakan, dan ilmu ini digunakanuntuk memberikan asuhan keperawatan khususnya budaya atau keutuhan budayakepada manusia (Leininger, 2002).
Asumsi mendasar dari teori adalah perilaku Caring. Caring adalah esensidari keperawatan, membedakan, mendominasi serta mempersatukan tindakankeperawatan. Tindakan Caring dikatakan sebagai tindakan yang dilakukan dalammemberikan dukungan kepada individu secara utuh. Perilaku Caring semestinyadiberikan kepada manusia sejak lahir, dalam perkembangan dan pertumbuhan,masa pertahanan sampai dikala manusia itu meninggal. Human caring secaraumum dikatakan sebagai segala sesuatu yang berkaitan dengan dukungan danbimbingan pada manusia yang utuh. Human caring merupakan fenomena yanguniversal dimana ekspresi, struktur dan polanya bervariasi diantara kultur satutempat dengan tempat lainnya.
2.1.2 Konsep dalam Transcultural Nursing
1. Budaya adalah norma atau aturan tindakan dari anggota kelompok yangdipelajari, dan dibagi serta memberi petunjuk dalam berfikir, bertindak danmengambil keputusan.
2. Nilai budaya adalah keinginan individu atau tindakan yang lebih diinginkan atau sesuatu tindakan yang dipertahankan pada suatu waktu tertentu danmelandasi tindakan dan keputusan.
3. Perbedaan budaya dalam asuhan keperawatan merupakan bentuk yangoptimal dari pemberian asuhan keperawatan, mengacu pada kemungkinanvariasi pendekatan keperawatan yang dibutuhkan untuk memberikan asuhanbudaya yang menghargai nilai budaya individu, kepercayaan dan tindakantermasuk kepekaan terhadap lingkungan dari individu yang datang danindividu yang mungkin kembali lagi (Leininger, 1985).
4. Etnosentris adalah persepsi yang dimiliki oleh individu yang menganggapbahwa budayanya adalah yang terbaik diantara budaya-budaya yang dimilikioleh orang lain.
5. Etnis berkaitan dengan manusia dari ras tertentu atau kelompok budaya yangdigolongkan menurut ciri-ciri dan kebiasaan yang lazim.
6. Ras adalah perbedaan macam-macam manusia didasarkan padamendiskreditkan asal muasal manusia.
7. Etnografi adalah ilmu yang mempelajari budaya. Pendekatan metodologipada penelitian etnografi memungkinkan perawat untuk mengembangkankesadaran yang tinggi pada perbedaan budaya setiap individu, menjelaskandasar observasi untuk mempelajari lingkungan dan orang-orang, dan salingmemberikan timbal balik diantara keduanya.
8. Care adalah fenomena yang berhubungan dengan bimbingan, bantuan,dukungan perilaku pada individu, keluarga, kelompok dengan adanya kejadianuntuk memenuhi kebutuhan baik aktual maupun potensial untuk meningkatkankondisi dan kualitas kehidupan manusia.
9. Caring adalah tindakan langsung yang diarahkan untuk membimbing,mendukung dan mengarahkan individu, keluarga atau kelompok pada keadaanyang nyata atau antisipasi kebutuhan untuk meningkatkan kondisi kehidupanmanusia.
10. Cultural Care berkenaan dengan kemampuan kognitif untuk mengetahui nilai,kepercayaan dan pola ekspresi yang digunakan untuk mebimbing, mendukungatau memberi kesempatan individu, keluarga atau kelompok untukmempertahankan kesehatan, sehat, berkembang dan bertahan hidup, hidupdalam keterbatasan dan mencapai kematian dengan damai.
11. Culturtal imposition berkenaan dengan kecenderungan tenaga kesehatanuntuk memaksakan kepercayaan, praktik dan nilai diatas budaya orang lainkarena percaya bahwa ide yang dimiliki oleh perawat lebih tinggi daripadakelompok lain.
2.1.3 Paradigma Transcultural Nursing
Leininger (1985) mengartikan paradigma keperawatan transcultural sebagaicara pandang, keyakinan, nilai-nilai, konsep-konsep dalam terlaksananya asuhankeperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya terhadap empat konsepsentral keperawatan yaitu : manusia, sehat, lingkungan dan keperawatan (Andrewand Boyle, 1995).
1. Manusia
Manusia adalah individu, keluarga atau kelompok yang memiliki nilai-nilaidan norma-norma yang diyakini dan berguna untuk menetapkan pilihan danmelakukan pilihan. Menurut Leininger (1984) manusia memilikikecenderungan untuk mempertahankan budayanya pada setiap saat dimanapundia berada (Geiger and Davidhizar, 1995).
2. Sehat
Kesehatan adalah keseluruhan aktifitas yang dimiliki klien dalam mengisikehidupannya, terletak pada rentang sehat sakit. Kesehatan merupakan suatukeyakinan, nilai, pola kegiatan dalam konteks budaya yang digunakan untukmenjaga dan memelihara keadaan seimbang/sehat yang dapat diobservasidalam aktivitas sehari-hari. Klien dan perawat mempunyai tujuan yang samayaitu ingin mempertahankan keadaan sehat dalam rentang sehat-sakit yangadaptif (Andrew and Boyle, 1995).
3. Lingkungan
Lingkungan didefinisikan sebagai keseluruhan fenomena yang mempengaruhiperkembangan, kepercayaan dan perilaku klien. Lingkungan dipandangsebagai suatu totalitas kehidupan dimana klien dengan budayanya salingberinteraksi. Terdapat tiga bentuk lingkungan yaitu : fisik, sosial dan simbolik.
Lingkungan fisik adalah lingkungan alam atau diciptakan oleh manusia sepertidaerah katulistiwa, pegunungan, pemukiman padat dan iklim seperti rumah didaerah Eskimo yang hampir tertutup rapat karena tidak pernah ada mataharisepanjang tahun. Lingkungan sosial adalah keseluruhan struktur sosial yangberhubungan dengan sosialisasi individu, keluarga atau kelompok ke dalammasyarakat yang lebih luas. Di dalam lingkungan sosial individu harusmengikuti struktur dan aturan-aturan yang berlaku di lingkungan tersebut.Lingkungan simbolik adalah keseluruhan bentuk dan simbol yangmenyebabkan individu atau kelompok merasa bersatu seperti musik, seni,riwayat hidup, bahasa dan atribut yang digunakan.
4. Keperawatan
Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan pada praktikkeperawatan yang diberikan kepada klien sesuai dengan latar belakangbudayanya. Asuhan keperawatan ditujukan memnadirikan individu sesuaidengan budaya klien. Strategi yang digunakan dalam asuhan keperawatanadalah perlindungan/mempertahankan budaya, mengakomodasi/negoasiasibudaya dan mengubah/mengganti budaya klien (Leininger, 1991).
a. Cara I : Mempertahankan budaya
Mempertahankan budaya dilakukan bila budaya pasien tidak bertentangandengan kesehatan. Perencanaan dan implementasi keperawatan diberikansesuai dengan nilai-nilai yang relevan yang telah dimiliki klien sehinggaklien dapat meningkatkan atau mempertahankan status kesehatannya,misalnya budaya berolahraga setiap pagi.
b. Cara II : Negosiasi budaya
Intervensi dan implementasi keperawatan pada tahap ini dilakukan untukmembantu klien beradaptasi terhadap budaya tertentu yang lebihmenguntungkan kesehatan. Perawat membantu klienagar dapat memilih dan menentukan budaya lain yang lebih mendukung peningkatankesehatan, misalnya klien sedang hamil mempunyai pantang makan yangberbau amis, maka ikan dapat diganti dengan sumber protein hewani yanglain.
c. Cara III : Restrukturisasi budaya
Restrukturisasi budaya klien dilakukan bila budaya yang dimilikimerugikan status kesehatan. Perawat berupaya merestrukturisasi gayahidup klien yang biasanya merokok menjadi tidak merokok. Pola rencanahidup yang dipilih biasanya yang lebih menguntungkan dan sesuai dengankeyakinan yang dianut.
2.1.4 Proses keperawatan Transcultural Nursing
Model konseptual yang dikembangkan oleh Leininger dalam menjelaskanasuhan keperawatan dalam konteks budaya digambarkan dalam bentuk matahariterbit (Sunrise Model) seperti yang terdapat pada gambar 1. Geisser (1991)menyatakan bahwa proses keperawatan ini digunakan oleh perawat sebagailandasan berfikir dan memberikan solusi terhadap masalah klien (Andrew andBoyle, 1995). Pengelolaan asuhan keperawatan dilaksanakan dari mulai tahappengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
1. Pengkajian
Pengkajian adalah proses mengumpulkan data untuk mengidentifikasimasalah kesehatan klien sesuai dengan latar belakang budaya klien (Giger andDavidhizar, 1995). Pengkajian dirancang berdasarkan 7 komponen yang adapada “Sunrise Model” yaitu :
a. Faktor teknologi (tecnological factors)
Teknologi kesehatan memungkinkan individu untuk memilih ataumendapat penawaran menyelesaikan masalah dalam pelayanankesehatan. Perawat perlu mengkaji : persepsi sehat sakit, kebiasaanberobat atau mengatasi masalah kesehatan, alasan mencari bantuankesehatan, alasan klien memilih pengobatan alternatif dan persepsi kliententang penggunaan dan pemanfaatan teknologi untuk mengatasipermasalahan kesehatan saat ini.
b. Faktor agama dan falsafah hidup (religious and philosophical factors)
Agama adalah suatu simbol yang mengakibatkan pandangan yangamat realistis bagi para pemeluknya. Agama memberikan motivasi yangsangat kuat untuk menempatkan kebenaran di atas segalanya, bahkan diatas kehidupannya sendiri. Faktor agama yang harus dikaji oleh perawatadalah : agama yang dianut, status pernikahan, cara pandang klienterhadap penyebab penyakit, cara pengobatan dan kebiasaan agama yangberdampak positif terhadap kesehatan.c. Faktor sosial dan keterikatan keluarga (kinship and social factors)
Perawat pada tahap ini harus mengkaji faktor-faktor : namalengkap, nama panggilan, umur dan tempat tanggal lahir, jenis kelamin,status, tipe keluarga, pengambilan keputusan dalam keluarga, danhubungan klien dengan kepala keluarga.
d. Nilai-nilai budaya dan gaya hidup (cultural value and life ways)
Nilai-nilai budaya adalah sesuatu yang dirumuskan dan ditetapkanoleh penganut budaya yang dianggap baik atau buruk. Norma-normabudaya adalah suatu kaidah yang mempunyai sifat penerapan terbataspada penganut budaya terkait. Yang perlu dikaji pada faktor ini adalah :posisi dan jabatan yang dipegang oleh kepala keluarga, bahasa yangdigunakan, kebiasaan makan, makanan yang dipantang dalam kondisisakit, persepsi sakit berkaitan dengan aktivitas sehari-hari dan kebiasaanmembersihkan diri.
e. Faktor kebijakan dan peraturan yang berlaku (political and legal factors)
Kebijakan dan peraturan rumah sakit yang berlaku adalah segalasesuatu yang mempengaruhi kegiatan individu dalam asuhankeperawatan lintas budaya (Andrew and Boyle, 1995). Yang perlu dikajipada tahap ini adalah : peraturan dan kebijakan yang berkaitan denganjam berkunjung, jumlah anggota keluarga yang boleh menunggu, carapembayaran untuk klien yang dirawat.
f. Faktor ekonomi (economical factors)
Klien yang dirawat di rumah sakit memanfaatkan sumber-sumbermaterial yang dimiliki untuk membiayai sakitnya agar segera sembuh.Faktor ekonomi yang harus dikaji oleh perawat diantaranya : pekerjaanklien, sumber biaya pengobatan, tabungan yang dimiliki oleh keluarga,biaya dari sumber lain misalnya asuransi, penggantian biaya dari kantoratau patungan antar anggota keluarga.
g. Faktor pendidikan (educational factors)
Latar belakang pendidikan klien adalah pengalaman klien dalammenempuh jalur pendidikan formal tertinggi saat ini. Semakin tinggipendidikan klien maka keyakinan klien biasanya didukung oleh buktibuktiilmiah yang rasional dan individu tersebut dapat belajar beradaptasiterhadap budaya yang sesuai dengan kondisi kesehatannya. Hal yang perlu dikaji pada tahap ini adalah : tingkat pendidikan klien, jenispendidikan serta kemampuannya untuk belajar secara aktif mandiritentang pengalaman sakitnya sehingga tidak terulang kembali.
2.1.5 Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah respon klien sesuai latar belakangbudayanya yang dapat dicegah, diubah atau dikurangi melalui intervensikeperawatan. (Giger and Davidhizar, 1995). Terdapat tiga diagnosakeperawatan yang sering ditegakkan dalam asuhan keperawatan transkulturalyaitu : gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan perbedaan kultur,gangguan interaksi sosial berhubungan disorientasi sosiokultural danketidakpatuhan dalam pengobatan berhubungan dengan sistem nilai yang diyakini.
2.1.6 Perencanaan dan Pelaksanaan
Perencanaan dan pelaksanaan dalam keperawatan trnaskultural adalahsuatu proses keperawatan yang tidak dapat dipisahkan. Perencanaan adalahsuatu proses memilih strategi yang tepat dan pelaksanaan adalahmelaksanakan tindakan yang sesuai denganlatar belakang budaya klien (Gigerand Davidhizar, 1995). Ada tiga pedoman yang ditawarkan dalam keperawatan transkultural (Andrew and Boyle, 1995) yaitu : mempertahankanbudaya yang dimiliki klien bila budaya klien tidak bertentangan dengankesehatan, mengakomodasi budaya klien bila budaya klien kurangmenguntungkan kesehatan dan merubah budaya klien bila budaya yangdimiliki klien bertentangan dengan kesehatan.
a. Cultural care preservation/maintenance
1) Identifikasi perbedaan konsep antara klien dan perawat tentang proses melahirkan dan perawatan bayi
2) Bersikap tenang dan tidak terburu-buru saat berinterkasi dengan klien
3) Mendiskusikan kesenjangan budaya yang dimiliki klien dan perawat
b. Cultural careaccomodation/negotiation
1) Gunakan bahasa yang mudah dipahami oleh klien
2) Libatkan keluarga dalam perencanaan perawatan
3) Apabila konflik tidak terselesaikan, lakukan negosiasi dimana kesepakatan berdasarkan pengetahuan biomedis, pandangan kliendan standar etik
c. Cultual care repartening/reconstruction
1) Beri kesempatan pada klien untuk memahami informasi yangdiberikan dan melaksanakannya
2) Tentukan tingkat perbedaan pasien melihat dirinya dari budayakelompok
3) Gunakan pihak ketiga bila perlu
4) Terjemahkan terminologi gejala pasien ke dalam bahasa kesehatanyang dapat dipahami oleh klien dan orang tua
5) Berikan informasi pada klien tentang sistem pelayanan kesehatan. Perawat dan klien harus mencoba untuk memahami budayamasingmasing melalui proses akulturasi, yaitu proses mengidentifikasi persamaan danperbedaan budaya yang akhirnya akan memperkaya budaya budaya mereka.
Bila perawat tidak memahami budaya klien maka akan timbul rasa tidak percaya sehingga hubungan terapeutik antara perawat dengan klien akanterganggu. Pemahaman budaya klien amat mendasari efektifitas keberhasilanmenciptakan hubungan perawat dan klien yang bersifat terapeutik.
2.1.7Evaluasi
Evaluasi asuhan keperawatan transkultural dilakukan terhadapkeberhasilan klien tentang mempertahankan budaya yang sesuai dengankesehatan, mengurangi budaya klien yang tidak sesuai dengan kesehatan atauberadaptasi dengan budaya baru yang mungkin sangat bertentangan denganbudaya yang dimiliki klien. Melalui evaluasi dapat diketahui asuhankeperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya klien.
2.2 Tinjauan Medis
2.2.1 Pengertian
Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorbsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme,dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan, dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi (Supariasa, 2002).
Gizi buruk adalah keadaan dimana asupan gizi sangat kurang dari kebutuhan tubuh. Umumnya gizi buruk ini diderita oleh balita karena pada usia tersebut terjadi peningkatan energy yang sangat tajam dan peningkatan kerentanan terhadap infeksi virus/bakteri.Proses dan bentuk terparah akibat kekurangan gizi yang telah menahun dan berlangsung lama (www.VHRmedia.com).
Gizi kurang adalah gangguan kesehatan akibat kekurangan atau ketidakseimbangan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan, aktivitas berfikir dan semua hal yang berhubungan dengan kehidupan. Kekurangan zat gizi adaptif bersifat ringan sampai dengan berat. Gizi kurang banyak terjadi pada anak usia kurang dari 5 tahun.
Menurut ahli gizi dari IPB, Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, MS, standar acuan status gizi balita adalah Berat Badan menurut Umur (BB/U), Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB), dan Tinggi Badan menurut Umur (TB/U). Sementara klasifikasinya adalah normal, underweight (kurus), dan gemuk.
Untuk acuan yang menggunakan tinggi badan, bila kondisinya kurang baik disebut stunted (pendek). Pedoman yang digunakan adalah standar berdasar tabel WHO-NCHS (National Center for Health Statistics).
Menurut Prof. Ali, untuk membedakan balita kurang gizi dan gizi buruk dapat dilakukan dengan cara berikut. Gizi kurang adalah bila berat badan menurut umur yang dihitung menurut Skor Z nilainya kurang dari -2, dan gizi buruk bila Skor Z kurang dari -3. Artinya gizi buruk kondisinya lebih parah daripada gizi kurang.
Balita penderita gizi kurang berpenampilan kurus, rambut kemerahan (pirang), perut kadang-kadang buncit, wajah moon face karena oedema (bengkak) atau monkey face (keriput), anak cengeng, kurang responsif. Bila kurang gizi berlangsung lama akan berpengaruh pada kecerdasannya.
Status gizi pada balita dapat diketahui dngan cara mencocokkan umur anak (dalam bulan) dengan berat badan standar tabel WHO-NCHS, bila berat badannya kurang, maka status gizinya kurang.
Akibat kurang gizi terhadap proses tubuh tergantung pada zat-zat gizi yang
kurang. Kekurangan gizi ini secara umum menyebabkan gangguan pada
• Pertumbuhan
Pertumbuhan anak menjadi terganggu karena protein yang ada digunakan sebagai zat pembakar sehingga otot-otot menjadi lunak dan rambut menjadi rontok
• Produksi tenaga
Kekurangan energi yang berasal dari makanan mengakibatkan anak kekurangan tenaga untuk bergerak dan melakukan aktivitas. Anak menjadi malas, dan merasa lemas
• Pertahanan tubuh
Sistem imunitas dan antibodi menurun sehingga anak mudah terserang infeksi seperti batuk, pilek dan diare
• Struktur dan fungsi otak
Kurang gizi pada anak adapt berpengaruh terhadap perkembangan mental. Kekurangan gizi dapat berakibat terganggunya fungsi otak secara permanen seperti perkembangan IQ dan motorik yang terhambat
• Perilaku
Anak yang mengalami gizi kurang menunjukkan perilaku yang tidak tenang, cengeng dan apatis.
2.2.2 Etiologi
Penyebab dari gizi kurang antara lain : kebiasaan makan dimana makanan yang dikonsumsi kurang mengandung kalori dan protein. Faktor social budaya dapat juga menjadi factor penyebab gizi buruk dimana adanya pantangan mengkonsumsi makanan tertentu, seperti anak tidak boleh makan ikan karena takut kecacingan. Faktor-faktor lain yang dapat menimbulkan gizi kurang adalah penyakit metabolic, infeksi kronik atau kelainan organ tubuh lain.
Dapat juga dibedakan menjadipenyebab langsung dan penyebab tidak langsung :
  1. Penyebab langsung
(1)               Asupan makanan yang kurang
Asupan makanan yang kurang bisa berasal dari ketidakcukupan anak mendapatkan makanan bergizi seimbang dan pola makan yang salah. Makanan bergizi pada anak tidak hanya mengandung karbohidrat dan protein saja, tetapi harus diimbangi dengan zat-zat lain seperti lemak, vitamin (A, D, E, K, C, B1, B2, B5, B12), asam folat, mineral (kalium, natrium, iodium, magnesium,fosfor, dan lainnya). Jika kebutuhan akan zat-zat tersebut kurang atau bahkan tidak terpenuhi, maka anak akan kekurangan gizi. Selain itu ditunjang dengan pola makan yang salah. Misalnya pada anak yang diasuh oleh neneknya yang masih memiliki kebiasaan turun temurun. Bayi yang baru lahir beberapa bulan sudah diberi makanan tambahan seperti pisang, nasi lumat, atau bahkan ada kebudayaan yang tidak memperbolehkan anak mengkonsumsi daging, telur, santan, dan lainnya. Hal ini dapat menghilangkan kesempatan anak memperoleh zat gizi dari lemak dan protein.
(2)               Penyakit infeksi yang diderita oleh anak
Penyakit infeksi yang sedang diderita oleh anak menjadi penyebab terpenting kedua dari kejadian gizi buruk. Apalagi di negara terbelakang dan sedang berkembang seperti Indonesia, dimana kesadaran akan kebersihan masih kurang serta ancaman endemitas penyakit tertentu khususnya penyakit infeksi seperti diare, TBC, campak, gastroenteritis. Ada keterkaitan antara penyakit infeksi dengan gizi buruk, yaitu kondisi infeksi kronik akan menyebabkan gizi buruk, dan kondisi malnutrisi sendiri akan memberikan dampak buruk pada sistem pertahanan tubuh sehingga anak mudah terkena penyakit infeksi.
  1. Penyebab tidak langsung
(1)               Persediaan makanan di rumah
Persediaan makanan di rumah merupakan penyebab tidak langsung dari kejadian gizi buruk pada anak. Jika di dalam keluarga tidak memiliki persediaan makanan yang cukup untuk seluruh anggota keluarga, maka dapat dipastikan anggota keluarga akan kekurangan makanan. Terlebih lagi jika di dalam keluarga terdapat anak balita yang sangat membutuhkan makanan bergizi seimbang yang mengandung zat-zat gizi yang diperlukan untuk proses tumbuh kembang anak.
(2)               Perawatan anak dan ibu hamil
Perawatan pada anak juga mempengaruhi terjadinya gizi buruk. Jika seorang anak dirawat oleh kedua orang tuanya dengan penuh kasih sayang dan kebutuhannya tercukupi baik secara fisik maupun psikologis, maka anak tersebut dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya. Anak akan tampak sehat dan terhindar dari kurang gizi atau bahkan gizi buruk. Selain itu perawatan pada ibu sejak hamil juga mempengaruhi perkembangan bayi dalam kandungannya. Jika seorang ibu tidak memperhatikan pemenuhan gizi selama hamil dan setelah melahirkan, maka akan berdampak buruk bagi anaknya. Ibu yang mengkonsumsi makanan bergizi 4 sehat 5 sempurna akan dapat menghindari kejadian gizi buruk pada anaknya kelak. Selain itu pemberian ASI secara eksklusif juga memberikan kontribusi yang baik untuk mendukung tumbuh kembang anak.
(3)               Pelayanan kesehatan yang kurang memadai
Kejadian gizi buruk pada suatu wilayah akan cepat diketahui jika terdapat pelayanan kesehatan yang memadahi seperti posyandu dan puskesmas. Tetapi jika pelayanan kesehatan tersebut tidak dapat difungsikan sebagaimana mestinya, maka balita yang terkena gizi buruk tidak dapat dideteksi secara cepat, atau bahkan angka kejadian gizi buruk akan semakin meningkat jika tidak segera mendapatkan penanganan.
(4)               Faktor ekonomi
Akar permasalahan yang sesungguhnya dari semakin meningkatnya angka kejadian gizi buruk adalah faktor ekonomi. Sejak terjadinya krisis ekonomi, banyak masyarakat yang menderita kemiskinan dan tidak memiliki pekerjaan tetap. Hal ini menyebabkan orang tua tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, terutama kebutuhan pokok berupa makanan bergizi bagi keluarga. Khususnya pada balita yang sangat membutuhkan zat gizi penting yang terkandung dalam makanan yang dikonsumsi, dan makanan tersebut merupakan aset utama yang mendukung tumbuh kembang anak. Jika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi maka akan terjadi kurang gizi atau bahkan gizi buruk.
2.2.3 Klasifikasi Gizi Buruk
  1. Kurang kalori ( marasmus)
Marasmus adalah kekurangan energy pada makanan yang menyebabkan cadangan protein tubuh terpakai sehingga anak kurus dan keriput.
1)      Etiologi :
Penyebab utama dari kekurangan makanan yang mengandung kalori
Penyebab umum:
Kegagalan menyusui anak : ibunya meninggal
Tidak adanya makanan tambahan
2)      Tanda & gejala
- Tampak sangat kurus, sehingga tulang terbungkus kulit
- Wajah seperti orang tua
- Cengeng
- Kulit keriput , jari lemak subtikus sangat sedikit sampai tidak ada├╝ Perut cekung
- Sering disertai penyakit kronis; diare kronik
3)      Patofisiologi
Defisiensi kalori yang lama
Penghancuran jaringan lemak
(kebutuhan energy)
Menghilangnya lemak dibawah kulit
Penciutan/pengecilan otot
Pelisutan tubuh yang menyeluruh
  1. Kurang protein ( kwashiorkor )
Kwashiorkor adalah penyebab utama dari kekurangan makanan yang mengandung protein hewani. Penyakit ini biasanya diderita oleh golongan sosial
  • ekonomi rendah.
1) Etiologi :
- Defisiensi asupan protein
2) Tanda & gejala
- Kegagalan pertumbuhan tampak dengan berat badan rendah maupun ada edema
- Edema pada kaki
- Wajah membulat dan sembab
- Pandangan mata sayu
- Cengeng
- Cracy papement
- Rambut tipis kemerahan seperti warna rambut jagung mudah dicabut tanparasa sakit dan rontok
- Pembesaran hati
- Otot mengecil, lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri dan duduk├╝ Sering disertai infeksi anemia , diare.
  1. Kurang kalori dan protein ( marasmus – kwashiorkor )
Etiologi, tanda dan gejalanya merupakan gabungan dari marasmus dan kwashiorkor.
2.2.4         Penilaian Status Gizi
Penilaian status gizi dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung (Soegianto, 2007):
1. Penilaian status gizi secara langsung
  1. Antropometri Gizi:
Antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi.
Ada 2 tipe pengukuran antropometri yang digunakan untuk penilaian status gizi (Gibson, 1990):
  1. Penilaian antropometri pertumbuhan
Pengukuran antropometri pertumbuhan yang secara luas digunakan adalah pengukuran tinggi badan (TB), berat badan (BB).
Pengukuran pertumbuhan:
  1. Pengukuran lingkar kepala
  2. Pengukuran panjang badan waktu terlentang
  3. Pengukuran tinggi badan
  4. Pengukuran tinggi lutut
  5. Berat badan bayi dan anak kurang dari 2 tahun
  6. Lebar sikut
Indeks yang dihubungkan dengan pengukuran pertumbuhan:
  1. Lingkar kepala terhadap umur
  2. Berat badan (BB) terhadap umur (U)
  3. Berat badan (BB) terhadap tinggi badan (TB)
  4. Tinggi badan (TB) terhadap umur (U)
  5. Penilaian antropometri komposisi tubuh
Sebagian besar metode antropometri untuk menilai komposisi tubuh didasarkan pada model dimana tubuh terdiri dari susunan kimia: massa lemak dan massa bebas lemak.
Pengukuran massa lemak:
  1. Mengukur ketebalan lipatan kulit
  2. Mengukur tunggal lipatan kulit
  3. Pengukuran Multiple Skinfold
  4. Rasio lingkar pinggang – pinggul
  5. Area lemak anggota badan
  6. Kalkulasi lemak tubuh dari pengukuran lipatan kulit dengan kepadatan tubuh
  1. Test Biokimia
Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan spesimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh (darah, urine, tinja, hati, dan otak). Metode ini digunakan untuk suatu peringatan bahwa kemungkinan akan terjadi keadaan malnutrisi yang lebih parah lagi.
  1. Pemeriksaan klinis
Pemeriksaan klinis adalah metode penilaian gizi yang didasarkan pada perubahan-perubahan yang terjadi dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi. Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel seperti kulit, rambut, dan mukosa oral atau pada organ-organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid. Metode ini digunakan untuk mengetahui tingkat status gizi dengan melakukan pemeriksaan fisik yaitu tanda dan gejala atau riwayat penyakit.
  1. Pemeriksaan Biofisik
Penentuan status gizi secara biofisik adalah metode penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan malihat perubahan struktur dari jaringan. Umumnya dapat digunakan dalam situasi tertentu seperti kejadian buta senja epidemik, cara yang digunakan adalah tes adaptasi gelap.
2. Penilaian Status Gizi Secara Tidak Langsung
a.  Survey konsumsi makanan
Survey konsumsi makanan merupakan metode penentuan status gizi dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi.
  1. Statistik vital
Pengukuran status gizi dengan statistik vital adalah dengan menganalisa data beberapa statistik kesehatan, seperti angka kematian berdasarkan umur, angka kesakitan dan kematian akibat penyebab tertentu dan data lainnya yang berhubungan dengan gizi.
3. Pemantauan Pertumbuhan Anak Dengan KMS (Kartu Menuju Sehat)
Kartu Menuju Sehat atau KMS merupakan metode untuk mengetahui pertumbuhan berat badan anak mulai lahir sampai usia lima tahun.
Ketentuan KMS:
  1. Garis merah dibentuk dengan menghubungkan angka-angka yang dihitung dari 70 % median baku WHO-NCHS
  2. Dua pita kuning diatas garis merah terbentuk masing-masing dengan batas atas 75 % – 80 % median baku WHO-NCHS
  3. Dua pita warna hijau muda diatas pita kuning dibentuk dengan batas atas 85 % – 90 % median baku WHO-NCHS
  4. Dua pita warna hijau tua diatasnya dibentuk masing-masing dengan batas atas 95 % – 100 %
  5. Dua pita warna hijau muda dan kuning paling atas yang masing-masing pita bernilai 5 % dari baku median adalah daerah dimana anak balita sudah memiliki kelebihan berat badan
Interpretasi pertumbuhan balita dengan KMS:
  1. Pertumbuhan disebut baik: bila berat badan bulan ini bertambah dibandingkan berat badan bulan lalu dan grafik berat badan di KMS tetap pada pita warna yang sama atau berpindah ke pita warna yang lebih atas.
  2. Pertumbuhan tidak baik:
    1. Bila berat badan bulan ini bertambah tetapi grafik di KMS berpindah ke pita yang lebih rendah
    2. Bila berat badan bulan ini dibandingkan bulan lalu sama nilainya (tetap) atau lebih rendah (berkurang)
2.2.5Penatalaksanaan
Ada berbagai macam cara untuk mencegah terjadinya gizi buruk antara lain (Pudjiadi, 2000):
  1. Meningkatkan hasil produksi pertanian, supaya persediaan bahan makanan menjadi lebih banyak, dan sekaligus merupakan tambahan penghasilan rakyat.
  2. Penyediaan makanan formula yang mengandung tinggi protein dan tinggi energi.
  3. Memperbaiki infrastruktur pemasaran. Infrastruktur pemasaran yang tidak baik akan berpengaruh negatif terhadap harga maupun kualitas bahan makanan.
  4. Subsidi harga bahan makanan. Intervensi demikian bertujuan untuk membantu mereka yang sangat terbatas penghasilannya
  5. Pemberian makanan suplementer melalui puskesmas
  6. Memberikan pendidikan gizi
  7. Pendidikan dan pemeliharaan kesehatan:
    1. Pemeriksaan kesehatan di Puskesmas, Posyandu pada waktu-waktu tertentu
b.Melakukan imunisasi terhadap penyakit-penyakit infeksi
  1. Memperbaiki hygieni lingkungan dengan menyediakan air minum, tempat membuang air besar (WC)
  2. Mendidik masyarakat untuk membuang air besar di tempat yang telah disediakan, membersihkan badan, memasak air minum, membersihkan rumah
  3. Menganjurkan kepada masyarakat untuk mengunjungi puskesmas secepatnya jika kesehatan mulai terganggu
  4. Menganjurkan untuk mengikuti program KB (Keluarga Berencana)
Makanan /minuman dengan biologic tinggi gizi kalori / protein. Pemberian secara bertahap dari bentuk dan jumlah mula – mula cair (seperti susu) lunak(bubur) biasa ( nasi lembek).
- Prinsif pemberian nutrisi
1. Porsi kecil,sering,rendah serat, rendah laktosa
2. Energy / kalori : 100 K kal / kg BB/ hari
3. Protein : 1 – 1,5 g / kg BB / hari
4. Cairan : 130 ml / kg BB / hari Ringan – sedang: 100 ml / kg BB / hari Edema Berat
- Obati / cegah infeksi
Antibiotic
a. Bila tampak komplikasi : Cotrymoksasol 5 ml
b. Bila anak sakit berat : Ampicillin 50 mg / kg BB IM/ IV Setiap 6 Jam Selama 2
Hari
- Untuk Melihat kemajuan / perkembangan anak
- Timbang berat badan setiap pagi sebelum diberi makan
• Catat kenaikan BB anak tiap minggu.
2.2.6 Konsep Asuhan Keperawatan Anak dengan Gizi Buruk
I. PENGKAJIAN
a) Identitas
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, pendidikan, pekerjaan, No. Register,agama, tanggal masuk RS , dll.
b) Keluhan utama
Tidak ada nafsu makan dan muntah
c) Riwayat penyakit sekarang
Gizi buruk biasanya ditemukan nafsu makan kurang kadang disertai muntah dan
tubuh terdapat kelainan kulit (crazy pavement)
d) Riwayat penyakit dahulu
Apakah ada riwayat penyakit infeksi , anemia, dan diare sebelumnya
e) Riwayat kesehatan keluarga
Apakah ada keluarga yang lain menderita gizi buruk
II. Pemeriksaan fisik
a)      Inspeksi
• Mata : agak menonjol
• Wajah : membulat dan sembab
• Kepala : rambut mudah rontok dan kemerahan
• Abdomen : perut terlihat buncit
• Kulit : adakah Crazy pavement dermatosis, keadaan turgor kulit,odema
b)      Palpasi
Pembesaran hati ± 1 inchi
c)      Auskultasi
Peristaltic usus abnormal
III. Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan darah
Pada pemeriksaan darah meliputi Hb, albumin, globulin, protein total, elektrolit
serum, biakan darah.
2. Pemeriksaan urine
Pemeriksaan urine meliputi urine lengkap dan kulture urine
3. Uji faal hati
4. EKG
5. X foto paru
IV. Diagnosa Keperawatan
  1. Pemenuhan nutrisi kurang dari kebuituhan tubuh b.d intake nutrisi tidak adekuat
Tujuan : nutrisi klien terpenuhi dalam 2 minggu
Kriteria hasil :
• Klien tidak muntah lagi
• Nafsu makan kembali normal
• Edema Berkurang /Hilang
• BB sesuai dengan umur (berat badan ideal 10 kg tanpa edema)
Rencana :
1) Beri asupan makanan/minuman tinggi kalori/protein
2) Timbang berat badan klien tiap hari
3) Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian obat/vitamin/nutrisi
4) Observasi pengawasan pemberian cairan
  1. Kerusakan integritas kulit b.d perubahan nutrisi, dehidrasi
Tujuan: Integritas kulit kembali normal.
Kriteria hasil:
• Gatal hilang/berkurang.
• Kulit kembali halus, kenyal dan utuh.
Rencana:
• Anjurkan pada keluarga tentang pentingnya merubah posisi sesering mungkin.
• Anjurkan keluarga lebih sering mengganti pakaian anak bila basah atau kotor dan kulit anak tetap kering.
•Kolaborasi dengan dokter untuk pengobatan lebih lanjut.
3. Kurang pengetahuan b.d kurang informasi tentang kondisi, prognosi dan kebutuhan nutrisi
Tujuan: Pengetahuan keluarga bertambah.
Kriteria hasil:
• Keluarga mengerti dan memahami isi penyuluhan.
• Dapat mengulangi isi penyuluhan.
• Mampu menerapkan isi penyuluhan di rumah sakit dan nanti sampai di rumah.
Rencana:
• Tentukan tingkat pengetahuan dan kesiapan untuk belajar.
• Jelaskan tentang:
-          Nama penyakit anak.
-          Penyebab penyakit.
-          Akibat yang ditimbulkan.
-          Pengobatan yang dilakukan.
• Jelaskan tentang:
-          Pengertian nutrisi dan pentingnya.
-          Pola makan yang betul untuk anak sesuai umurnya.
-          Bahan makanan yang banyak mengandung vitamin terutama banyak
mengandung protein.
• Beri kesempatan keluarga untuk mengulangi isi penyuluhan.
• Anjurkan keluarga untuk membawa anak kontrol di poli gizi setelah pulang dari rumah sakit.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN MODEL TRANSCULTURAL IN NURSING
3.1 Pengkajian
Pengkajian  pada model transcultural in nursing meliputi :
  1. Faktor Tekhnologi ( Technological Factors )
  • Persepsi klien tentang penggunaan dan pemanfaatan teknologi untuk mengatasi permasalahan kesehatan saat ini : ibu klien jarang memeriksakan anaknya, saat anaknya terdapat tanda dan gejala gizi buruk yang dilakukan terlebih dahulu yaitu membawa anaknya ke dukun, setelah anaknya sakit parah baru ibunya membawa anaknya ke PUSKESMAS
  • Alasan mencari bantuan kesehatan : untuk memperoleh kesembuhan anaknya
  • Persepsi sehat sakit : Ibu beranggapan bahwa keadaan anaknya yang seperti itu bukan termasuk penyakit meskipun tanda – tanda dan gejala yang ada telah menunjukkan kalau anaknya mengalami gizi buruk, diantaranya anaknya tidak mau makan, satu porsi makan tidak habis, terdapat hepatomegali, perut buncit, anak juga tampak sangat kurus sekali.
  • Kebiasaan berobat atau mengatasi masalah kesehatan : Kalalu anaknya sakit diberi obat atau ramuan jamu-jamuan seadanya tanpa segera dibawa ke petugas kesehatan.
  1. Faktor Agama dan Falsafah Hidup ( Religious and Phylosophical Factors )
  • Agama yang dianut : Islam
  • Kebiasaan yang berdampak positif terhadap kesehatan : Ibu klien membiasakan buang air kecil dahulu sebelum tidur
  • Berikhtiar untuk sembuh tanpa mengenal putus asa : ibu klien selalu berikhtiar untuk mencari kesembuhan anaknya
  • Mempunyai konsep diri yang utuh :
a)      Gambaran diri : anak masih belum mempunyai gambaran tentang dirinya secara utuh karena anak masih berumur satu tahun dan belum mengerti bagian tubuh mana yang paling disukainya.
b)      Ideal diri : anak  masih belum mengerti ideal dirinya dan belum mempunyai cita – cita terhadap dirinya.
c)      Harga diri : anak masih belum mengerti tentang apa arti harga diri baginya dan anak masih sedikit berinteraksi dengan lingkungan.
d)      Peran diri : berperan sebagai anak dan masih belum mempunyai peran yang lain sebagai anak. Meskipun sakit dan dirawat di rumah sakit peran sabagai anak masih dapat berfungsi meskipun tidak maksimal.
e)      Identitas diri : Identitasnya belum jelas karena masih belum sekolah dan belum mempunyai cita – cita sebagaimana mestinya.
  • Status pernikahan : belum menikah
  • Persepsi klien terhadap kesehatan dan cara beradaptasi terhadap situasinya saat ini : ibu klien berusaha menghadapi ujian tersebut dengan sabar dan berusaha mencari jalan keluarnya.
  • Cara pandang klien terhadap penyebab penyakit : klien memandang bahwa penyakit yang di derita anaknya merupakan ujian dari Allah SWT
  • Cara pengobatan dan penularan terhadap orang lain : -
  1. Faktor Sosial dan Keterikatan Kekeluargaan ( Khinsip and Social Factors )
  • Nama lengkap : An. A
  • Nama panggilan dalam keluarga : An. A
  • Umur : 1 tahun
  • Tempat dan tanggal lahir :Bantul, 05 Juni 2009
  • Jenis kelamin : Perempuan
  • Status : Anak kandung
  • Tipe keluarga : —-
  • Pengambilan keputusan dalam anggota keluarga : Orang Tua
  • Hubungan klien dengan kepala keluarga : Anak
  • Kebiasaan yang dilakukan rutin oleh keluarga :bermain bersama
  • Kegiatan yang dilakukan bersama masyarakat : kerja bakti
  1. Faktor Nilai – Nilai Budaya dan Gaya Hidup ( Cultural Values and Lifeways )
  • Posisi dan jabatan : -
  • Bahasa yang digunakan : Bahasa Jawa
  • Kebiasaan membersihkan diri : Mandi 2x sehari
  • Kebiasaan makan :makan sulit dan tidak teratur
  • Makan pantang berkaitan dengan kondisi sakit :makanan yang dikonsumsi kurang mengandung zat gizi ( makan gaplek ), ibu pasien juga mengganti pemberian ASI dengan memberikan air tajin.
  • Sarana hiburan yang bisa dimanfaatkan dan persepsi sakit berkaitan dengan aktivitas sehari – hari : Menonton TV
  • Ibu beranggapan bahwa keadaan anaknya gizi buruk saat ini yang ditandai dengan perut anaknya buncit dikarenakan kemasukan roh halus yang berasal dari belakang pekarangan rumahnya.
  1. Faktor Kebijakan dan Peraturan Rumah Sakit yang Berlaku ( Pollitical and Legal Factors )
  • Peraturan dan kebijakan berkenaan dengan jam berkunjung : pukul 16.00-18.00 WIB
  • Jumlah anggota keluarga yang boleh menunggu : 1 orang
  • Hak dan kewajiban klien yang harus dikontrakkan klien oleh rumah sakit :
  • Cara pembayaran untuk klien yang dirawat : JAMKESMAS
  1. Faktor Ekonomi ( Economical Factors )
  • Sumber ekonomi yang dimanfaatkan oleh klien :Sumbangan Keluarga
  • Tabungan dan patungan antar anggota keluarga : —
  • Pekerjaan klien : Belum bekerja
  • Sumber biaya pengobatan : JAMKESMAS
  • Kebiasaan menabung dan jumlahnya dalam sebulan : —-
  1. Faktor Pendidikan ( Educational Factors )
  • Latar belakang pendidikan klien, meliputi : Belum Bersekolah
  1. Tingkat pendidikan klien : —
  2. Tingkat pendidikan keluarga : Sekolah Menengah Pertama
  3. Jenis pendidikan : Sekolah Menengah Pertama
  4. Kemampuan klien belajar secara aktif mandiri tentang pengalaman sakitnya sehinggatidak terulang kembali : Orang Tua tidak mengizinkan anaknya untuk bermain hujan-hujan.
Pemeriksaan fisik pada balita gizi buruk
a)      Inspeksi
• Mata : agak menonjol
• Wajah : membulat dan sembab
• Kepala : rambut mudah rontok dan kemerahan
• Abdomen : perut terlihat buncit
• kulit : adakah Crazy pavement dermatosis, keadaan turgor kulit,
odema
b) Palpasi
Pembesaran hati ± 1 inchi
c) Auskultasi
Peristaltic usus abnormal
III. Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan darah
Pada pemeriksaan darah meliputi Hb, albumin, globulin, protein total, elektrolit serum, biakan darah.
2. Pemeriksaan urine
Pemeriksaan urine meliputi urine lengkap dan kulture urine
3. Uji faal hati
4. EKG
5. X foto paru
Analisa Data
No.
Pengelompokan Data
Etiologi
Diagnosa Keperawatan
1.
2.
3.
Ds :
-          Ibu klien mangatakan bahwa anaknya sulit makan
Do :
-          Anaknya rewel
-          Anak tampak sangat kurus
-          Makanan 1 porsi tidak habis
-          Makanan yang dikonsumsi kurang  mengandung zat gizi ( seperti ,makan makanan gaplek )
-          BB = 5 kg, TB = 70 cm ( status nutrisi gizi buruk )
-          Perut buncit
-          Hepatomegali
Ds:
-          Ibu px mengatakan bahwa sakit anaknya dikarenakan karena kemasukan roh halus
Do :
-          Perut anaknya yang buncit
-          Ibu membawa anaknya untuk berobat ke dukun terlebih dahulu sebelum dibawa ke petugas kesehatan
-          Kalalu anaknya sakit diberi obat atau ramuan tradisional seadanya tanpa segera dibawa ke petugas kesehatan.
Ds:
-          Ibu klien mengatakan bahwa anaknya merasa takut kalau didatangi oleh perawat
Do :
-          Anaknya tampak bingung
-          Anak tampak tak kooperatif saat akan dilakukan tindakan keperawatan
-          Anak menangis bila melihat petugas kesehatan mendekatinya
Input yang kurang bergizi
Sistem nilai yang diyakini
Disorientasi sosial
Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi
Ketidakpatuhan terhadap pengobatan
Kurangnya pengetahuan

3.2 Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan input yang kurang bergizi ditandai dengan
Ds :
-          Ibu klien mangatakan bahwa anaknya sulit makan
Do :
-          Anaknya rewel
-          Anak tampak sangat kurus
-          Makanan 1 porsi tidak habis
-          Makanan yang dikonsumsi kurang  mengandung zat gizi ( seperti ,makan makanan gaplek )
-          BB = 5 kg, TB = 70 cm ( status nutrisi gizi buruk )
-          Perut buncit
-          Hepatomegali
2.Ketidakpatuhan terhadap pengobatan berhubungan dengan sistem nilai yang diyakini ditandai dengan
Ds:
-          Ibu px mengatakan bahwa sakit anaknya dikarenakan karena kemasukan roh halus
Do :
-          Perut anaknya yang buncit
-          Ibu membawa anaknya untuk berobat ke dukun terlebih dahulu sebelum dibawa ke petugas kesehatan
-          Kalalu anaknya sakit diberi obat atau ramuan jamu-jamuan seadanya tanpa segera dibawa ke petugas kesehatan.
3.Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan disorientasi sosial yang ditandai dengan
Ds:
-          Ibu klien mengatakan bahwa anaknya merasa takut kalau didatangi oleh perawat
Do :
-          Anaknya tampak bingung
-          Anak tampak tak kooperatif saat akan dilakukan tindakan keperawatan
-          Anak menangis bila melihat petugas kesehatan mendekatinya
3.3 Intervensi Keperawatan
NO
Diagnosa Keperawatan
Rencana
Ttd
Tujuan
Intervensi
Rasional
1.
2.
3.
Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan input yang kurang bergizi ditandai dengan
Ds :
-          Ibu klien mangatakan bahwa anaknya sulit makan
Do :
-          Anaknya rewel
-          Anak tampak sangat kurus
-          Makanan 1 porsi tidak habis
-          Makanan yang dikonsumsi kurang  mengandung zat gizi  (seperti ,makan makanan gaplek )
-          BB = 5 kg, TB = 70 cm ( status nutrisi gizi buruk )
-          Perut buncit
-          Hepatomegali
Ketidakpatuhan terhadap pengobatan berhubungan dengan sistem nilai yang diyakini ditandai dengan
Ds:
-          Ibu px mengatakan bahwa perut  anaknya buncit dikarenakan karena kemasukan roh halus
Do :
-          Ibu membawa anaknya untuk berobat ke dukun terlebih dahulu sebelum dibawa ke petugas kesehatan
-          Kalalu anaknya sakit diberi obat atau ramuan jamu-jamuan seadanya tanpa segera dibawa ke petugas kesehatan.
Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan disorientasi sosial yang ditandai dengan
Ds:
-          Ibu klien mengatakan bahwa anaknya merasa takut kalau didatangi oleh perawat
Do :
-          Anaknya tampak bingung
-          Anak tampak tak kooperatif saat akan dilakukan tindakan keperawatan
-          Anak menangis bila melihat petugas kesehatan mendekatinya
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x 24 jam diharapkan kebutuhan nutrisi klien terpenuhi dengan kriteria hasil :
- ibu mengatakan anaknya mau makan
-          Makanan habis 1 porsi
-          BB, TB seimbang
-          Ibu pasien dapat memberikan makanan yang bergizi
-          Perut tidak buncit
-          Tidak terdapat hepatomegali
Diharapkan setelah pemberian asuhan keperawatan selama 2×24 jam ketidakpatuhan terhadap pengobatan dapat berkurang dengan kriteria hasil :
-          Ibu tidak beranggapan bahwa keadaan perut anaknya yang buncit bukan karena roh halus
-          Ibu akan membawa anaknya langsung berobat ke petugas kesehatan tanpa dibawa ke dukun terlebih dahulu
-          Kalau anaknya sakit tidak perlu diberi ramuan jamu-jamuan.
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1×24 jam pengetahuan ibu berhubungan dengan disorientasi sosial dapat meningkat dengan kriteria hasil :
-          Ibu klien mengatakan kalau anaknya sudah tidak takut lagi jika didatangi oleh perawat
-          Anaknya tidak tampak bingung
-          Anak tampak dapat kooperatif saat akan dilakukan tindakan keperawatan
  1. Lakukan pendekatan pada klien dan keluarganya
  2. Kaji TB, BB, Lila, Lingkar kepala,
  3. Berikan pendidikan kesehatan tentang makanan yang mengandung zat gizi.
  4. Berikan porsi sedikit tapi sering
  5. Jaga kebersihan gigi dan mulut
  6. Berikan makanan yang hangat
  7. Kolaborasi dengan tim gizi
  1. lakukan pendekatan pada pasien dan keluarganya
  2. Identifikasi perbedaan konsep antara klien dan perawat
  3. Bersikap tenang dan tidak terburu-buru saat berinterkasi dengan klien
  4. Mendiskusikan kesenjangan budaya yang dimiliki klien dan perawat
  5. Beri kesempatan pada klien untuk memahami informasi yang
    diberikan dan melaksanakannya
  6. Gunakan pihak ketiga bila
Perlu
  1. Lakukan pendekatan pada pasien dan keluarganya
  1. Terjemahkan terminologi gejala pasien ke dalam bahasa kesehatan
    yang dapat dipahami oleh klien dan orang tua
  2. Berikan informasi pada klien tentang sistem pelayanan kesehatan
  3. Libatkan keluarga dalam perencanaan perawatan
  4. Lakukan negosiasi dimana
    kesepakatan berdasarkan pengetahuan biomedis, pandangan klien
    dan standar etik apabila konflik tidak terselesaikan
    1. Agar pasien dan keluarganya kooperatif dengan perawat
    2. Untuk mengetahui perkembangan TB, BB, Lila dan lingkaran
    3. Agar ibu pasien dapat memberikan makanan yang bergizi untuk anaknya
    4. Meningkatkan nafsu makan klien
    5. Gilut yang bersih meningkatkan nafsu makan anak
    6. Meningkatkan nafsu makan
    7. Untuk mempercepat kesembuhan
  1. Agar pasien dan keluarganya kooperatif dengan perawat
  2. Mengetahui perbedaan konsep antara klien dan perawat
  1. Agar pasien dapat menerima dan berinteraksi dengan baik
  1. Mengetahui tentang kesenjangan budaya yang dimiliki antara klien dan perawat
  1. Agar klien lebih memahami informasi yang diberikan dan mau melaksanakannya
  1. Mempermudah dalam berkomunikasi
  1. Agar pasien dan keluarganya dapat kooperatif dengan perawat
  2. Agar pasien dapat memahami dengan baik
  1. Agar pasien lebih mengerti tentang sistem pelayanan kesehatan
  2. Untuk mempercepat proses kesembuhan
  3. Untuk mendapatkan penyelesaian yang terbaik
ttd
ttd
ttd
BAB IV
PENUTUP
4.1 Simpulan
Transkultural nursing adalah suatu area atau wilayah keilmuan budaya pada proses belajar dan keperawatan yangh fokus memandang perbedaan dan kesamaan diantara udaya dengan menghargai asuhan, sehat dan sakit didasarkan pada nilai budaya manusia, keoercayaan dan tindakan, dan ilmu ini digunakan untuk memberikan asuhan keperawatan khussnya budaya atau keutuhan budaya kepada manusia (Leininger, 2002). Model konseptual yang dikembangkan oleh Leininger dalam menjelaskan asuhan keperawatan dalam konteks budaya digambarkan dalam bentuk matahari terbit (sunrise model) seperti yang terdapat pada gambar 1. Geisser (1991) menyatakan bahwa proses keperawaqtan ini digunakan oleh perawat sebagai landasan berfikir dan memberikan solusi terhadap masalah klien (Andrew & Boyle, 1995).
Pengkajian pada model transkultural in nursing meliputi, faktor teknologi (technological factors), faktor agama dan falsafah hidup (religious & philosopical factors), faktir sosial dan keterkaitan kekeluargaan (kinship & sosial factors), faktor nilai-nilai budaya dan gaya hidup (cultural values & lifeways), faktor kebijakan dan peraturan rumah sakit yang berlaku (political & legal factors), faktorekonomi (economical factors), faktor pendidikan (educational factors).
Perencanaan dan  pelaksanaan dalam  keperawatan transcultural adalah suatu proses keperawatan yang tidak dapat dipisahkan. Perencanaan adalah suatu proses memilh strategi yang tepat dan pelaksanaan adalah melaksanakan tindakan yang sesuai dengan latar belakang budaya klien (Gigerand Daviddhizar, 1995). Ada tiga pedoman yang yang dimiliki klien bila budaya klien tidak bertentangan dengan kesehatan, mengakomodasi budaya kien bila budaya klien kurang menguntungkan kesehatan dan merubah budaya klien bila budaya yang dimiliki klien bertentangan dengan kesehatan.
4.2 Saran dan Kritik
Di dalam penulisan makalah ini telah dijelaskan tentang model keperawatan transcultueal in nursing yang menggunakan pengkajian dengan sunrise model. Dalam aplikasi kasus gizi buruk pada anak usia 1 tahun ini khususnya masalah keperawatan tentang ketidakpatuhan terhadap pengobatan yang berhubungan dengan sistem nilai yang diyakini, kita sebagai perawat dapat melakukan intervensi keperawatan dengan mengubah budaya masyarakat yang ada dengan restrukturisasi budaya mereka. Sehingga, model asuhan keperawatan dengan transcultural in nursing ini sangat tepat dipakai dalam pemberian asuhan keperawatan dalam kehidupan sehari – hari, karena dapat memberikan asuhan keperawatan yang lebih lengkap dan rinci sesuai dengan kebudayaan yang masing – masing masyarakat miliki.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar